Catching Fire

Flash


widgeo.net

Selasa, 01 Oktober 2013

Fakta ILMIAH Mengenai Segitiga Bermuda


Segitiga Bermuda dilingkupi aura mistis,
seperti UFO, Altantis, dan bahkan iblis
Dajal.
Misteri melingkupi sebuah wilayah laut di
dalam garis imajiner yang
menghubungkan tiga wilayah yaitu
Bermuda, Puerto Riko, dan Miami di
Amerika Serikat. Ada yang menyebutnya
'Segitiga Setan', 'Limbo the Lost',
'Twilight Zone', dan yang paling tenar
adalah sebutan 'Segitiga Bermuda --
terinspirasi dari artikel Vincent Gaddis
di Majalah Argosy.
Meski, dalam peta Amerika Serikat, The
U. S. Board of Geographic, tak ada
tempat bernama 'Segitiga Bermuda'.
Wilayah ini jadi salah satu lokasi paling
misterius, horor, dan menakutkan di
muka Bumi. Apalagi, dalam sejarahnya,
banyak kapal dan pesawat yang tertelan
di lokasi itu. Legenda Segitiga Bermuda
makin ramai diperbincangkan ketika pada
5 Desember 1945 pukul 14.10 waktu
setempat, lima pesawat yang dipiloti para
penerbang terlatih dari kesatuan
Penerbangan 19 tiba-tiba hilang di
segitiga itu. Padahal cuaca sedang
cerah. Para pilot sempat meminta
pertolongan lewat radio, namun, mereka
tiba-tiba raib.
Pesawat yang ditugasi mencari mereka
juga raib misterius. Dilaporkan enam
pesawat dan 27 orang hilang dalam
peristiwa itu. Juga peristiwa hilangnya
kapal induk USS Cyclops pada 1918, yang
hingga saat ini jadi misteri terbesar
dalam sejarah Angkatan Laut Amerika
Serikat. Berbagai macam dugaan aneh
muncul, ada yang mengatakan alien
yang bersembunyi di bawah lautan,
portal ke dimensi lain, gas methan, lokasi
Atlantis yang hilang, hingga rumah iblis,
Dajal. Namun, ada juga penjelasan
ilmiah yang lebih layak dipertimbangkan
untuk menjawab misteri ini
***
Seperti di muat laman LiveScience, ada
jawaban logis untuk menjelaskan
hilangnya kapal atau pesawat di Segitiga
Bermuda itu. Daerah Segitiga Bermuda
rentan terhadap badai tak terduga. Ada
gelombang -- Gulf Stream -- yang
sangat cepat dan turbulen -- menelan
serpihan kapal, pesawat, beserta
penumpangnya. Menghapus bukti-bukti
terjadinya bencana. Tak hanya itu, Laut
di Segitiga Bermuda memiliki kedalaman
hingga 30.000 meter atau lebih dari
9.000 meter dengan kondisi topografinya
bisa 'menelan' kapal sehingga tak
pernah ditemukan.
Laman Sejarah Angkatan Laut Amerika
Serikat, www.history.navy.mil,
menjelaskan bahwa faktor signifikan
yang menyebabkan hilangnya kapal di
Segitiga Bermuda adalah arus laut yang
kuat disebut Gulf Stream. Sebelum
telegraf, radio dan radar ditemukan,
pelaut tidak tahu ada badai atau angin
topan berada di dekatnya.Bencana itu
baru ketahuan setelah ada perubahan di
cakrawala. Badai yang datang tiba-tiba
itulah yang menyebabkan kapal
angkatan laut hilang di Bahama,
Saratoga. Kapal dan-krunya hilang tak
berbekas pada 18 Maret 1781. Dijelaskan
juga bahwa tidak hanya di Segitiga
Bermuda, banyak kapal-kapal Angkatan
Laut AS lainnya telah hilang di laut
karena badai di seluruh dunia -- secara
mendadak.
Kapal dan pesawat bisa hilang secara
tiba-tiba di wilayah Segitiga Bermuda
itu karena anomali kompas yang bisa
mengacaukan sistem navigasi. Soal
adanya anomali ini pernah dicatat oleh
Columbus dalam pelayarannya. Dalam
sejumlah catatan disebutkan bahwa
Segitiga Bermuda adalah salah satu dari
dua lokasi di dunia yang memiliki anomali.
Wilayah lain adalah laut Jepang dan
Filipina, yang juga dikenal dengan nama
yang mirip, 'Segitiga Formosa'. ***
Faktor cuaca juga ikut berperan
mengapa kapal dan pesawat hilang di
Bermuda. Pola cuaca Karibia-Atlantik
sangat ekstrim. Badai lokal yang
mendadak menimbulkan cipratan air
kencang yang bisa jadi bencana bagi
pelaut maupun pilot.
Penelitian satelit bahkan membuktikan,
adanya gelombang dahsyat setinggi 80
kaki atau bahkan lebih, terjadi di
wilayah laut terbuka, seperti halnya
Segitiga Bermuda. Gelombang ini bisa
menghancurkan kapal besar dan
membuatnya berkeping-keping. Ada juga
faktor topografi dasar laut di Segitiga
Bermuda. Dari benting [gundukan pasir
tengah laut], pulau di bawah laut, hingga
palung yang luar biasa dalam. Dengan
kombinasi arus kuat, kapal atau pesawat
bisa terjebak di dasar laut untuk
selamanya. Sementara, seperti dimuat
laman Pattayadailynews, 6 Mei 2010, ahli
geokimia, Richard McIver pada 1981
memperkenalkan teori peran gas metan
hidrat dalam misteri Segitiga Bermuda.
Kata dia, longsor di dasar Segitiga
Bermuda besar kemungkinan
mengakibatkan lumpur dan batu besar
meluncur dengan cepat -- yang akhirnya
merobek dasar laut dan membuka
selubung lapisan gas. Gas itu lalu pecah
dan mengeluarkan metana yang
menyebabkan gelombang besar. Gas itu
meledak di permukaan air tanpa
peringatan dan menyulitkan setiap kapal
atau pesawat yang lewat di lokasi itu.
Yang juga menyebabkan kecelakaan
adalah faktor mnusia. Banyak pelaut
dengan pengetahuan seadanya nekat
menyeberangi daerah serawan Segitiga
Bermuda. Penjaga laut Amerika Serikat
selama ini telah mengabaikan faktor
mitos atau fiksi di Segitiga Bermuda.
Menurut pengalaman mereka, gabungan
kekuatan alam dengan segala
ketidakpastiannya adalah biang keladi
'kekalahan' manusia di Segitiga
Bermuda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar